BRMP NTT mengikuti Apel Nasional bersama Menteri Pertanian RI
Kamis, 20 November 2025, BRMP NTT Hadiri Apel Nasional yang dilaksanakan secara hybrid sebagai forum konsolidasi nasional antara Pemerintah Pusat dan garda terdepan di lapangan (PPL dan Petani) dalam rangka Akselerasi Pertanian Modern dan Penguatan Swasembada Pangan Indonesia 2025.
Menteri Pertanian Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP membuka kegiatan dengan penekanan pada aspek integritas dalam pelaksanaan program, khususnya terkait bantuan alat mesin pertanian (Alsintan). Ditegaskan bahwa kasus penyelewengan traktor yang didistribusikan dari pusat akan dilindungi dan dipantau ketat. Pihak Kementerian akan segera menindaklanjuti secara hukum apabila terjadi teror atau intimidasi di lapangan terkait implementasi program. Arahan tegas diberikan agar PPL tidak diperbolehkan mengambil alih dan membuat keputusan di luar kebijakan yang telah ditetapkan. Setiap PPL harus fokus pada tugas utama sebagai pendamping dan fasilitator program, bukan sebagai pengambil keputusan tunggal atas distribusi Alsintan.
Fokus utama kementerian adalah perluasan lahan produktif dan perbaikan infrastruktur. Program cetak sawah yang telah mencapai target awal 700 Ha akan ditambah lagi untuk memaksimalkan produksi nasional. Secara spesifik, diusulkan potensi besar untuk cetak sawah di Papua di daerah yang memiliki sumber air yang berkelanjutan, seperti di pinggiran sungai yang airnya dipastikan tidak pernah kering. Usulan ini harus diikuti dengan skema permohonan sarana produksi seperti pupuk yang wajib mengacu pada Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), serta memanfaatkan teknologi irigasi pompa untuk memastikan pasokan air.
Dalam rangka identifikasi kebutuhan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) diminta untuk segera melaporkan secara terperinci kepada pusat mengenai data realisasi Cetak Sawah, Pompanisasi, dan kondisi Irigasi yang rusak. Laporan ini harus mencakup angka detail seperti berapa Indeks Pertanaman (IP) yang terpengaruh dan berapa unit pompa yang dibutuhkan. Komitmen pemerintah untuk memperbaiki dan membangun infrastruktur ini sangat serius, dengan estimasi alokasi anggaran yang cukup besar, mencapai sekitar Rp4 triliun.
Dalam pidatonya, Menteri Pertanian menegaskan kembali bahwa Penyuluh Pertanian adalah perpanjangan tangan swasembada pangan dan merupakan kunci keberhasilan di tingkat petani. PPL diminta untuk menjadi agen perubahan yang mengadopsi konsep Pertanian Modern.
Kegiatan ini turut menguatkan narasi keberhasilan pertanian nasional, di mana disampaikan bahwa Bapak Prabowo (pejabat negara) dalam rapat PBB telah menyampaikan jumlah produksi padi yang membanggakan di Indonesia sekaligus menyatakan bahwa Indonesia telah mencapai Swasembada Pangan.