BRMP NTT Perkuat Swasembada Pangan di Sabu Raijua
Sabu Raijua, Selasa 30 Juni 2026. Dalam upaya mendukung percepatan program Swasembada Pangan Berkelanjutan, BRMP NTT melaksanakan kegiatan koordinasi dan monitoring di Kabupaten Sabu Raijua. Kegiatan ini bertujuan memastikan pelaksanaan program pertanian berjalan sesuai rencana, melalui pemantauan perkembangan Swasembada Pangan Berkelanjutan di Kabupaten Sabu Raijua.
Kegiatan koordinasi yang dilakukan oleh Dr. Haruna, S.Pi, M.Si , selaku Pj. Swasembada Pangan Kab. Sabu Raijua yang didampingi anggota Tim Andri Setiawan, S.Si, dan Sri Lestari, SE. Dalam koordinasi tersebut bersama Katimker PPL Kabupaten Sabu Raijua, Adelai Cendana Bunga bertemu dengan Kadistan Sabu Raijua Ir. Charles F. Y. Meyok. Ada beberapa hal yang dikoordinasikan yakni data CPCL, Luas Tambah Tanam (LTT), Optimalisasi Lahan (Oplah), serta pemanfaatan bantuan pemerintah seperti pompa air, hand traktor, benih, Irigasi Perpompaan (Irpom), dan Irigasi Perpipaan (Irpip) dan penginputan bantuan tersebut dalam Aplikasi BAST (Berita Acara Serah Terima Barang). Beliau menyatakan siap membantu dalam memverifikasi data tersebut yang diwakili oleh Kepala Bidang Prasarana Pertanian (PSP) Leonidas Leba Ludji.
Hasil koordinasi tersebut diperoleh beberapa informasi data diantaranya target LTT per Juni 2026 mampu mancapai 80,5% dari luasan 124 ha. Selain itu ada data bantuan mesin pompa air 3” sebanyak 22 unit sesuai usulan dan bantuan Handtraktor yang terealisasi 10 unit (9.5%), dari usulan 105 unit. Selain itu juga terinformasi data CPCL 2026 tentang usulan bantuan berupa Irpom sebanyak 16 titik penerima kelompok tani yang tersebar pada 4 Kecamatan: Sabu Barat, Tengah, Timur, Liae, Hawu Mehara.
Tindaklanjut dari koordinasi tersebut, dilakukan verifikasi lapangan dalam memastikan keberadaan bantuan sampai kepada kelompok tani penerima, termasuk di dalamnya monitoring bantuan benih, alsintan dll. Verifikasi dan monitoring dilakukan pada 2 Kecamatan (Kec. Sabu Barat dan Sabu Tengah) diantaranya Kelompok Tani Prima Tani, Guaerea, Doheade, Mirakaddi, Rubadara, dan Rubamuri. Hasil monitoring menunjukkan bahwa bantuan berupa Irpom, pompa air, jaringan irigasi, dan benih telah dimanfaatkan oleh petani untuk mendukung kegiatan budidaya. Beberapa lokasi juga menjadi bagian dari program Optimalisasi Lahan (Oplah).
Dalam diskusi bersama kelompok tani, petani menyampaikan sejumlah kendala, antara lain keterbatasan air pada musim tanam kedua, sulitnya memperoleh bahan bakar untuk operasional pompa dan tingginya harga pestisida. Petani berharap adanya dukungan berupa listrik masuk sawah atau pompa berbasis listrik maupun panel surya guna meningkatkan efisiensi pengairan.