• Jl. Timor Raya KM. 32 Naibonat Kupang NTT
  • (0380) 8460553: WA center : 0853-3916-9833 (Chat Only)
  • [email protected]
Logo Logo
  • Beranda
  • Profil
    • Overview
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Tugas & Fungsi
    • Pimpinan
    • Satuan Kerja
    • Sumber Daya Manusia
  • Informasi Publik
    • Portal PPID
    • Standar Layanan
      • Maklumat Layanan
      • Waktu dan Biaya Layanan
    • Prosedur Pelayanan
      • Prosedur Permohonan
      • Prosedur Pengajuan Keberatan dan Penyelesaian Sengketa
    • Kerjasama
    • Regulasi
    • Agenda Kegiatan
    • Informasi Berkala
      • LHKPN
      • LHKASN
      • Rencana Strategis
      • DIPA
      • RKAKL/ POK
      • Laporan Kinerja
      • Capaian Kinerja
      • Laporan Keuangan
      • Laporan Realisasi Anggaran
      • Laporan Tahunan
      • Daftar Aset/BMN
    • Informasi Serta Merta
    • Informasi Setiap Saat
      • Daftar Informasi Publik
      • Standar Operasional Prosedur
      • Daftar Informasi Dikecualikan
  • Publikasi
    • Buku
    • Pedum/ Juknis
    • Infografis
    • Jurmal
    • Buletin
      • Standar Mutu
      • Pertanian
      • Peternakan
      • Pengolahan Hasil Pasca Panen
  • Reformasi Birokrasi
    • Manajemen Perubahan
    • Deregulasi Kebijakan
    • Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
    • Penataan dan Penguatan Organisasi
    • Penataan Tata Laksana
    • Penataan Sistem Manajemen SDM
    • Penguatan Akuntabilitas
    • Penguatan Pengawasan
  • Kontak
Thumb
192 dilihat       13 Maret 2026

Geopolitik Memanas, Indonesia Perkuat Benteng Pangan dan Energi dari Sawit hingga Singkong.

 
Jakarta, -- Ketegangan geopolitik dunia, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat - Israel, dan Iran, memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi dan energi global. Di tengah situasi tersebut, Indonesia memilih memperkuat fondasi domestik dengan mempercepat agenda swasembada pangan dan energi berbasis sumber daya nasional.
Strategi ini tidak hanya bertumpu pada komoditas utama seperti minyak sawit, tetapi juga membuka ruang besar bagi komoditas lain seperti singkong sebagai bahan baku energi masa depan. Dengan basis produksi yang kuat dan pasar ekspor yang tetap berjalan, Indonesia dinilai memiliki bantalan ekonomi yang relatif kokoh menghadapi gejolak global.
Salah satu komoditas yang menjadi penopang utama adalah minyak sawit. Pada 2025, produksi crude palm oil (CPO) Indonesia mencatatkan peningkatan signifikan. Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menyebut produksi sawit nasional tahun lalu mencapai angka yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.
“Produksi sawit kita. Jadi kita bersyukur tahun 2025 ini ada kenaikan produksi dari CPO itu kira-kira 51 juta ton atau secara total ini secara total produksi kita dengan PKO itu nah 56 juta.” kata Eddy, Rabu (11/03/2026)
Data menunjukkan produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 51,6 juta ton, naik sekitar 7,5 persen dibanding 2024 yang berada di angka 48,16 juta ton. Kenaikan ini turut didukung kondisi cuaca yang baik sepanjang tahun serta harga sawit yang relatif tinggi pada tahun sebelumnya sehingga petani lebih intensif merawat kebun.
Di sisi pasar global, permintaan ekspor juga masih kuat. Sepanjang 2025, volume ekspor sawit Indonesia tumbuh 9,5 persen, dari 29,5 juta ton menjadi 32,3 juta ton. Harga minyak sawit yang relatif lebih kompetitif dibanding minyak nabati lain menjadi faktor pendorong utama.
Meski konflik global memicu lonjakan biaya logistik dan asuransi pengiriman hingga sekitar 50 persen, ekspor sawit Indonesia hingga kini masih berjalan.
“Dengan perang ini yang kondisi global seperti ini kita bersyukur sawit masih jalan. Sawit masih ekspornya masih jalan. Walaupun terjadi kenaikan biaya yang luar biasa. Kenaikan biaya logistik dengan insurance itu kira-kira 50 persen kenaikannya.” Ungkapnya.
Menurut Eddy, meskipun ada indikasi penurunan permintaan baru akibat kenaikan biaya transportasi, kontrak ekspor yang sudah berjalan tetap dipenuhi dan pengiriman masih berlangsung ke berbagai negara tujuan utama seperti India dan China.
Di dalam negeri, konsumsi sawit juga terus meningkat, terutama untuk kebutuhan energi melalui program biodiesel. Pada 2025, konsumsi domestik mencapai 24,7 juta ton, naik sekitar 3,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara konsumsi biodiesel sendiri meningkat hingga 12,7 juta ton, naik sekitar 10,9 persen.
Program biodiesel menjadi bagian penting dari strategi Indonesia mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor. Saat ini implementasi program berada pada bauran B40, dengan peningkatan ke level lebih tinggi seperti B50 dalam jangka panjang. Eddy melanjutkan, peningkatan program biodiesel harus diiringi dengan peningkatan produksi agar tidak mengganggu keseimbangan ekspor.
“Menteri Pertanian minta supaya kita memang setuju untuk peningkatan produktivitas untuk meningkatkan produksi kita karena program pemerintah ini akan swasembada energi utamanya untuk biodiesel. Jalan satu-satunya adalah kita harus meningkatkan produksi.” Ungkapnya.
Selain sawit, pemerintah juga mulai mengoptimalkan komoditas lain sebagai sumber energi alternatif, salah satunya singkong. Komoditas ini diproyeksikan menjadi bahan baku bioetanol untuk mendukung bauran energi nasional.
Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia, Arifin Lambaga mengatakan, potensi singkong Indonesia sangat besar untuk mendukung ketahanan energi.
“Karena kita tahu sekarang risiko kekurangan energi kita sangat besar karena adanya perang di Timur Tengah itu. Nah oleh karena itu tentu pemerintah menginginkan semua potensi yang bisa memproduksi energi itu dioptimalkan.” pungkas Arifin.
Saat ini produksi singkong nasional mencapai sekitar 14 juta ton per tahun. Dengan peningkatan produktivitas dan dukungan varietas unggul, angka tersebut dinilai masih bisa ditingkatkan secara signifikan.
Menurut Arifin, kebutuhan bioetanol nasional untuk campuran bahan bakar mencapai 1,4 juta kiloliter per tahun. Jika seluruh kebutuhan tersebut dipenuhi dari singkong, maka diperlukan sekitar 10 juta ton singkong segar.
“Konversinya rata-rata untuk satu liter bioetanol membutuhkan antara lima sampai tujuh kilogram singkong segar.” ujarnya.
Kementerian Pertanian saat ini meminta pelaku industri dan petani untuk menyiapkan rencana produksi agar komoditas ini dapat menjadi bagian dari ekosistem energi nasional.
“Kami diminta membuat perencanaan produksi singkong yang kemudian dikonversi menjadi bioetanol.” imbuhnya.
Kekuatan pada sektor pangan, energi nabati, serta basis produksi komoditas yang besar, Indonesia memiliki posisi strategis dalam menghadapi ketidakpastian global. Ketika konflik geopolitik mengganggu rantai pasok energi dan pangan dunia, kekuatan sumber daya domestik menjadi benteng utama menjaga stabilitas nasional.
Langkah memperkuat swasembada pangan dan energi pun menjadi strategi jangka panjang Indonesia untuk memastikan ekonomi tetap tangguh, bahkan di tengah tekanan geopolitik global yang semakin kompleks.
Prev Next

- BSIP-NTT


Pencarian

Berita Terbaru

  • Thumb
    Hadapi Kemarau 2026, Kementan Perkuat Antisipasi untuk Amankan Produksi Padi di Jawa Barat
    29 Mar 2026 - By BSIP-NTT
  • Thumb
    Sejalan Arahan Presiden Prabowo, Mentan Amran Tancap Gas Hilirisasi Pertanian
    29 Mar 2026 - By BSIP-NTT
  • Thumb
    Indonesia Kini Jadi Rujukan Dunia di Sektor Pangan Pemerintah optimistis ketahanan pangan kuat.
    29 Mar 2026 - By BSIP-NTT
  • Thumb
    Stok Beras Nasional Usai Lebaran Diprediksi Aman hingga 11 Bulan
    26 Mar 2026 - By BSIP-NTT
  • Thumb
    Gerakan Tanam (Gertam) padi serentak se-Indonesia
    16 Mar 2026 - By BSIP-NTT

tags

BBRMP BBRMP_NTT Kementan Kementerian Pertanian

Kontak

(0380) 8460553: WA center : 0853-3916-9833 (Chat Only)
-
[email protected]

Jl. Timor Raya KM. 32 Naibonat, Kupang, 

Nusa Tenggara Timur

85000

https://ntt.brmp.pertanian.go.id

© 2025 - 2026 Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Nusa Tenggara Timur.. All Right Reserved