Terobosan BRIN: Senyawa Kulit Manggis Dibidik Jadi Terapi Kanker Payudara
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Peneliti BRIN mengembangkan senyawa turunan kulit manggis sebagai kandidat terapi kanker payudara. Riset ini membuka harapan baru pengobatan berbasis radiofarmaka dari bahan alam lokal.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan senyawa turunan kulit manggis sebagai kandidat terapi kanker payudara.
Riset ini menyasar jenis kanker payudara yang bergantung pada hormon estrogen, yang jumlah penderitanya mendominasi kasus di Indonesia.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri (PRTRRB) BRIN, Isti Daruwati, menjelaskan senyawa yang dikembangkan merupakan turunan alfa-mangostin dari kulit buah manggis, yang diberi kode AMB10.
Senyawa ini diteliti sebagai kandidat radiofarmaka teranostik, yakni dapat digunakan sekaligus untuk diagnosis dan terapi kanker payudara.
Berdasarkan data The Global Cancer Observatory (GCO), kanker payudara menjadi kanker dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia.
Pada 2022 tercatat 66.271 kasus, sekaligus menjadi penyumbang kematian ketiga akibat kanker.
Isti menyebut sekitar 75 persen penderita kanker payudara memiliki jenis kanker yang pertumbuhannya dipengaruhi hormon estrogen atau estrogen receptor positive (ER+).
Pada jenis ini, hormon estrogen menempel pada reseptor estrogen dan memicu pertumbuhan sel kanker.
“Terapi yang umum digunakan adalah tamoksifen, yang bekerja menghalangi estrogen menempel pada reseptor. Dari hasil uji in silico dan in vitro, kami melihat adanya kemiripan struktur kimia antara AMB10 dan tamoksifen,” ujar Isti, dikutip dari laman resmi BRIN, Senin (26/1/2026).
Riset ini dikembangkan bersama Universitas Perjuangan Tasikmalaya dan Departemen Analisis Farmasi dan Kimia Medisinal Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.
AMB10 telah berhasil disintesis dan dipilih untuk penelitian lanjutan sebagai kandidat radiofarmaka baru.
Dalam pengembangannya, senyawa AMB10 diberi label radioaktif menggunakan iodin-131 (I-131) yang diproduksi dari Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy.
Proses pelabelan dilakukan melalui metode oksidasi kloramin-T sehingga menghasilkan kemurnian radiokimia yang tinggi.
Hasil uji laboratorium menunjukkan senyawa tersebut mampu masuk dan terakumulasi lebih banyak pada sel kanker payudara dengan reseptor estrogen positif. Temuan ini mengindikasikan sifat pengikatan yang spesifik terhadap sel kanker target.
“Dari berbagai pengujian fisikokimia, studi komputasi, dan uji biologis, kami melihat bahwa [⊃1;⊃3;⊃1;I]I-AMB10 berpotensi besar dikembangkan sebagai radiofarmaka teranostik untuk kanker payudara ER-positif,” kata Isti.
Riset ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI. BRIN berharap pengembangan senyawa berbasis bahan alam ini dapat menjadi alternatif terapi kanker payudara di masa depan sekaligus memperkuat kemandirian riset dan inovasi kesehatan nasional.
“Harapannya, senyawa alami turunan alfa-mangostin ini bisa dikembangkan lebih lanjut menjadi obat radioaktif untuk terapi kanker payudara di Indonesia,” tutup Isti.